Friday, April 10, 2020

UNTOLD, JUST READ #6 SURAT TERBUKA TENTANG PATAH HATI

(sumber: pinterest)


WARNING!
Ini bakalan panjang banget (mungkin).

Lantas, bila sudah hijrah, menjadi anggota rohis, aktif ikut kajian, dan menyerukan doktrin “No khalwat until Akad”, diri ini terbebas dari rasa akan menyukai seseorang yang memang hal tersebut menjadi fitrah manusia? Tentu saja tidak. Aku hanyalah manusia biasa, seorang gadis normal yang masih memiliki ketertarikan pada lawan jenis, seperti manusia normal pada umumnya.

Akhirnya, setelah sekian lama, aku memutuskan untuk memberanikan diri mengungkapkan hal ini, ya meskipun secara tidak langsung kepada orang-orang yang bersangkutan.

Here we go...

Pada suatu pagi, tepatnya tanggal 1 Maret 2020 (aku menyempatkan untuk scroll chat dulu) langit sedang cerah-cerahnya, angin berhembus santai, tidak sedang kuliah dan berada di kamar kost seperti biasa, aku mengetik sebuah pesan pengakuan sekaligus sebuah tekad bahwa pada hari itu aku memutuskan untuk menghentikan rasa sukaku pada laki-laki. Sebentar, maksudnya adalah aku memilih berhenti untuk memikirkan perasaanku dan fokus pada karir, studiku. Jadi aku masih tetap memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis hanya saja kali ini aku memilih untuk tidak memedulikan hal tersebut.

Aku kirimkan pesan itu kepada seorang teman sebagai saksi akan niatku ini.

Jadi sebenarnya, secara garis besar, ada dua orang laki-laki yang aku sukai, sangat aku sukai, iya maaf kalau aku kemaruk.

Orang pertama, panggil saja ‘kakel’ adalah kakak kelas satu sekolah, sedangkan satu orang lagi, panggil saja ‘kating’, merupakan kakak tingkat di tempatku kuliah saat ini. Jadi aku jatuh hati lagi pada orang lain disaat aku sedang jatuh cinta pada orang pertama. Bingung? Aku harap tidak.

Aku tipe orang yang memendam perasan, tidak pernah berani mengungkapkan ataupun bicara terus terang. Aku lebih memilih diam dan memperhatikan dari jauh, cupu memang. Terserahlah kalian ingin menjulukiku apa. Aku diam karena aku takut ditolak, aku tidak ingin menerima kenyataan bahwa dunia tidak memihak kepadaku, jadi aku memilih diam.

Mereka memiliki kelebihan dan juga kelemahannya masing-masing, aku tidak bisa memilih mana yang terbaik diantara keduanya. Lalu aku berfikir kembali, siapa aku berhak menentukan yang terbaik di antara keduanya?

Kesalahan pertamaku adalah tidak pernah berani terus terang, dengan begitu secara tidak langsung aku memilih untuk melukai diriku sendiri.

Aku akan menceritakan bagaimana bisa aku jatuh hati pada kakel.

Seperti yang telah aku katakan bahwa dia adalah kakak kelasku di bangku SMA. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku jatuh hati padanya, tapi aku yakin bahwa dia bukan love at the first sight.

Kesalahan keduaku adalah aku selalu jatuh hati pada orang-orang yang tergolong dipandang, banyak dikenal orang, dan tentu saja memiliki banyak fans. Yup, kakel ini termasuk jajaran orang-orang famous di sekolah.

Kami bertemu karena satu ektrakulikuler. Tapi sungguh, sebelum bergabung dengan ekstrakulikuler tersebut aku tidak pernah melihat batang hidungnya bahkan namanya pun aku tidak kenal.

Perlahan aku menghafal hal-hal disekitarnya, merk sepatunya, helmnya, sepeda motornya, bahkan letak parkir sepeda motornya pun aku tahu!

Hingga pada suatu hari, hubungan pertemanan kami menjadi semakin akrab. Terkadang aku masih tidak percaya kami bisa seakrab ini. Akrab dan dekat dengan orang yang aku sukai, what a life!

Hubungan pertemanan ini semakin akrab hingga akupun sulit untuk memutuskan apakah sebaiknya aku jujur atau tidak. Bila aku jujur, apakah setelah mengungkapkannya, pertemanan kita akan tetap baik-baik saja ataukah sebaliknya?

Tapi bila aku diam saja, maka aku tidak akan pernah tahu yang sebenarnya.

Akhirnya aku memilih untuk tetap diam. Bodoh.

Siapa sih aku, berani jatuh hati pada orang macam dia? Dia terlalu something untuk aku yang nothing, baahhhh.

Tahun berlalu, hingga kami sama-sama menjadi mahasiswa, akhirnya komunikasi kami tidak sesering dahulu. Tapi hampir setiap libur semester, kami masih sempat untuk bertemu dan berkumpul bersama teman-teman yang lain.

Keakraban kami membuatku perlahan mengerti satu persatu hal tentangnya, termasuk gadis yang dia sukai saat di sekolah dahulu. Tentunya gadis itu bukan aku hahaha (menangis). Pada titik itu aku mendapat tamparan keras. Sakit hati? Tentu saja, tapi aku masih bisa bersikap biasa saja padanya.

Egoku masih mendukung, selama janur kuning belum melengkung, petrus jakandor, pepet terus jangan kasih kendor!

Apakah sikapku selama ini terlalu terlihat biasa saja? apakah dia tidak menyadari setiap kali aku salah tingkah hingga tersipu malu dibuatnya? Hahaha sepertinya tidak, aku kan pandai berpura-pura sejak lama. Dihadapannya aku bisa bersikap biasa saja padahal kenyataannya sedang tidak baik-baik saja. oke sepertinya itu keahlian umum yang dimiliki setiap wanita di dunia ini, bukan?

Dia bilang, banyak gadis yang datang tapi dia tolak. Hal tersebut tentu karena dia sendiri telah memiliki gadis impiannya. Gadis tersebut lagi-lagi bukan aku, haha (sobbing).

Oke sampai sini aku masih tetap bisa bersikap biasa saja di depannya, aku memaklumi akan hal itu.

Sebenernya ini tidak boleh, tapi terkadang aku merasa sangat rindu serindu-rindunya. Aku tidak merindukannya sebagai teman, lebih dari itu, dan aku tahu itu tidak seharusnya aku lakukan. Tapi aku hanya hamba yang lemah, manusia hina jauh dari kesempurnaan.

Dan sakit hatiku yang pertama terjadi pada suatu hari dimana dia dengan perasaan bahagianya yang meluap-luap (meskipun lewat chat, tapi aku bisa membayangkan senyumnya mengembang saat mengetik huruf demi hurufnya) mengungkapkan bahwa dia telah memantapkan diri dan ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan seorang gadis pilihannya itu, dan aku sudah bilang kalau gadis itu tentunya bukan aku.

Ini merupakan pukulan telak bagitu.

Padahal aku telah mengetahui bahwa dirinya telah jatuh hati pada seorang gadis sudah dari jauh hari sebelum hari itu. Tapi tetap saja aku masih berharap padanya. Bodoh sangat.

Awalnya pasti kaget

Selanjutnya numb, aku tidak merasakan apa-apa, aku kira aku masih bisa baik-baik saja tapi aku salah. Ternyata reaksinya bekerja beberapa saat setelah aku memutuskan untuk menutup ruang obrolan tersebut.

Aku masih terdiam.

Perlahan, seperti dalam cerita-cerita novel romance pada umumnya, aku mulai mengerti bagaimana rasanya bila seketika dunia seperti akan runtuh. Ada yang sakit tapi tak berdarah, dadaku terasa sesak secara perlahan tapi pasti, seperti kata Via Vallen:

Aku nangis, nganti eluh getih putih

Lanjut, mang~

Meh sambat kaleh sinten
Yen sampun mekaten
Merana uripku (ho a ho eeee)

Ketika temanku yang mengetahui hal itu bertanya akan keadaanku, aku malah menjawab aku baik-baik saja, aku bisa baik-baik saja, namun nyatanya hatiku tidak bisa berbohong. Aku tidak sedang baik-baik saja. Entah dari sekian banyak penolakan, ini terasa yang paling menyakitkan. Beberapa hari setelahnya, aku jatuh sakit. Sebenarnya aku tidak tahu pasti hubungan antara patah hati yang kurasakan dengan aku yang tiba-tiba jatuh sakit karena interval jarak kedua momen tersebut sangat berdekatan. Apakah itu merupakan sebab-akibat? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, mungkin sakit hati itu menjadi salah satu faktor hingga aku harus menjalani masa-masa rawat inap. Poor me.

Pada saat itu aku bisa merasakan rasanya menjadi orang yang sedang patah hati sepatah-patanya. Tatapan sering kosong, pikiran kemana-mana, bahkan hanya ingin uring-uringan saja.

Aku terus bertanya-tanya, apakah aku harus berhenti sampai disini?

Mungkin ini terjadi karena aku sudah terlampau berlebihan mengharap kepada manusia, akhirnya aku merasakan rasa sakit yang mendalam.

Untung adanya jarak dan intensitas komunikasi yang sangat jarang, karena aku mulai berusaha untuk tidak menghubunginya bila tidak terlalu genting dapat membantu sedikit meredakan rasa patah hati ini.

Hari berlalu dan aku belajar mengikhlaskan.

Aku rasa aku sudah bisa pulih kembali meskipun tidak sepenuhnya, mungkin.

Itu saja ceritaku dengan kakel, selanjutnya kita beralih kepada orang kedua, kating.

Pertama kali bertemu yaitu saat aku menjadi mahasiswa baru dan kating adalah salah satu anggota BEM. Aku bertemu dengannya dalam serangkaian acara ospek.

Lagi dan lagi, kating adalah orang yang cukup dipandang di fakultasku. Penasaranlah aku, jadi aku memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam siapa sebenarnya kating ini.

Ku akui, dia memiliki pesona yang cukup membuat para mahasiswa baru klepek-klepek, sungguh.

Perlahan aku mulai ada rasa dengan kating karena dibuat kagum oleh segambreng kelebihannya. Seperti biasa, aku diam-diam memperhatikannya dari jauh. Satu tahun pertamaku menjadi mahasiswa, aku hanya dimabuk oleh pesonanya, terbuailah aku. Tapi memasuki tahun kedua, rumor tentang kekurangan kating sampai ke telingaku, tapi aku tolak mentah-mentah hal tersebut karena yang kutahu dia orang yang sempurna dan aku menaruh hati padanya, dasar bucin!

Kami menjadi akrab kira-kira mungkin mulai akhir tahun keduaku, maaf bagian ini aku lupa.
Biasanya ketika aku chat dia, membutuhkan waktu yang cukup bahkan sangat lama untuk membalas chat dariku, tapi suatu hari obrolan kami menjadi lebih lama, yang awalnya membahas hal penting hingga akhirnya sampai kepada obrolan ngalur-ngidul. Ada apa ini? Apa artinya ini?

Berspekulasilah aku, apakah kating juga ...

Ah, sepertinya tidak seperti itu. Mungkin aku saja yang telalu berharap.

Kami semakin akrab, hingga sering bertukar candaan.

Sampai sini, apakah artinya rasaku berbalas?

Pada masa ini, terkadang pikiran tentang kakel berkelebat diingatanku. Tapi aku tepis karena sekarang aku sedang jatuh hati pada orang baru.

Ternyata menghapus memori tentang kakel tidak segampang yang aku pikirkan.

Tapi hei, kakel telah menemukan kebahagianya. Jadi aku harus menemukan kebahagiaku sendiri.

Aku seperti yakin bahwa kating adalah orang yang tepat bagiku. Hingga suatu malam ketika aku masih berada di kampus ada seorang teman gadis yang mengajakku untuk mendengarkan curhatannya.

Seketika aku dibuat terkejut ketika dia mulai bercerita dan menyebutkan satu sama yang sangat-sangat aku kenal, kating. Dia bercerita bahwa kating selama ini berusaha untuk mendekatinya. Ya, aku tidak salah dengar. Kating berusaha mendekati temanku itu.

Tentu saja aku kaget, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan hal tersebut. Pikiranku serasa berhenti, semuanya menjadi berantakan. Aku menahan diriku sekuat tenaga dan mendengarkan curhatan temanku itu hingga selesai.

Ketika aku sampai di kost barulah aku berusaha mencerna ulang semua isi curhatan temanku itu. Jadi selama ini aku sudah salah mengira? Jadi selama ini akulah yang terlalu percaya diri.

Lalu apa maksud bercandaan yang sering ia lontarkan kepadaku, tentang perhatiannya, tentang apapun itu yang berhasil membuatku merasa satu-satunya?

Jadi selama ini aku telah dibutakan oleh cinta, tidak melihat keadaan sekitar bahwa yang aku ketahui selama ini hanyalah semu?

Inilah patah hatiku yang kedua kalinya. Patah hati karena merasa dikhianati. Patah hati karena kebodohan diri sendiri.

Oh tidak, lagi-lagi aku berharap kepada manusia secara berlebihan.

Sejak saat itu, aku sudahi rasa yang ternyata halusinasiku semata.

Kalau dipikir-pikir lagi, aku selalu mendapati cintaku tak berbalas. Sakit memang tapi dengan begitu aku bisa melindungiku dari kata ‘pacaran’ dan aku sangat bersyukur akan hal itu.

Sepertinya aku harus menyudahi hal-hal yang hanya membuat sakit hati ini saja. umurku terus bertambah, ada banyak hal yang bisa diprioritaskan selain permasalahan hati. Lebih baik aku fokus akan studiku dahulu, meraih mimpi-mimpi yang sudah aku gantung di langit. Fokus membuat diriku ini berhak bahagia.

Maka dari itu, pada Ahad 1 Maret 2020, aku memutuskan untuk move on dari one side love yang sangat menguras hati itu. Aku serahkan semuanya pada pilihan Sang Pencipta karena pada akhirnya aku hanya bisa untuk berusaha memperbaiki diri demi menjadi lebih pantas untukmu, siapapun kamu yang kelak menjadi pendamping hidupku. Namun bila pada akhirnya aku tidak berhasil mendapatkanmu, setidaknya aku berhasil mendapatkan diriku yang lebih baik dari sebelumnya.

Probolinggo, 11 April 2020
Masih dalam kemelut pandemi Covid19

0 comments:

Post a Comment

 

Keep Moving! Template by Ipietoon Cute Blog Design