Monday, July 15, 2019

UNTOLD, JUST READ #3 YANG TERJADI, MAKA TERJADILAH [long story]


Ini pengalaman pertamaku dan semoga menjadi pengalaman terakhirku juga :)


Tidak pernah terfikirkan sebelumnya bila pada saat Hari Raya Idul Fitri 1440 H, hamba yang banyak dosa bernama Noer Anggadila akan jatuh sakit dan harus opname. Aku berfikir diare yang aku alami selama bulan puasa kemarin hanyalah sebuah penyakit diare yang umum terjadi, meskipun itu terjadi padaku selama kurang lebih satu minggu, lama tidak?

Aku anggap aku baik-baik saja, karena setelah masa diareku lewat, aku kembali sehat seperti sedia kala.

Lalu disinilah semuanya dimulai.

[Jogja, Selasa, 4 Juni 2019] Pagi menuju siang setelah selesai mencuci beberapa lembar kain, tubuhku merasa kelelahan dan kuputuskan untuk pergi beristirahat, tidur. Saking lelahnya atau memang akunya yang acuh tak acuh, aku pun tidak membenarkan posisi tidurku. Tidur dengan posisi ujung kaki menggantung. Ketika aku terbangun, aku merasa suhu tubuhku meninggi, aku merasa pusing. Namun karena hari itu adalah hari terakhir puasa maka aku harus menunggu waktu berbuka untuk dapat meminum obat pereda panas.

Setelah waktu berbuka tiba, aku makan dan minum obat dan suhu tubuhku kembali, tapi itu tidak lama. Beberapa saat setelahnya, aku mulai merasakan suhu tubuhku kembali  naik, meskipun tak setinggi tadi. Aku pun memutuskan untuk segera beristirahat kembali, jadi setelah salat isya’ aku segera pergi tidur.

Aku pikir ini terjadi karena kelelahan dan terlalu memikirkan tugas kuliah yang tak kunjung selesai serta pikiran-pikiran lainnya.

[Jogja, 5 Juni 2019] Keesokan harinya, aku terbangun dengan suhu tubuh yang sedikit meninggi, maka setelah makan secukupnya dan minum obat, suhu tubuhku kembali turun. Alhamdulillah, aku bisa melaksanakan salat Idul Fitri bersama keluarga. Sekembalinya dari salat dan ziarah kubur, kami kembali ke rumah dan melakukan tradisi “saling memaafkan” sesama keluarga di rumah, pada Bapak, Ibuk, Adik, Paklik (Om), Bulik (Tante), kedua sepupu, dan kakek. Ya, ini adalah hari raya pertama tanpa Alhm. Nenek (ibu dari bapak), Allah panggil beliau beberapa bulan lalu sebelum hari raya.

Sudah menjadi tradisi di Indonesia bila pada saat Hari Raya Idul Fitri kami akan pergi ke rumah sanak saudara. Maka setelah itu kami—aku, adik, bapak, ibuk, kedua sepupu berangkat untuk bersilaturahim yang letaknya berjauhan. Paklik dan Bulik yang biasanya juga ikut kali ini tidak bisa lagi karena harus menjaga kakek di rumah.

Namun tidak hanya kami, keluarga dari budhe (kakak dari bapak), yang keempat anaknya telah melepas masa lajang juga turut ikut bersilaturahim bersama, jadilah kami seperti konvoi dengan 3 mobil, ah tidak juga sih hehehe.

Hari mulai beranjak siang dan suhu tubuhku mulai kembali naik dan hal tersebut tentunya juga ikut andil dalam mengubah mood-ku. Disaat banyak hidangan yang disajikan, aku hanya memilih untuk meminum segelas air mineral. Semua makanan yang aku makan mulai terasa aneh dan itu pertanda aku benar-benar sakit.

Sempat beberapa kali minum obat tapi hal itu tidak membantu banyak. Acara silaturahim selesai hingga malam, sekitar pukul 8 kami kembali ke rumah dan panas badanku tak kunjung turun, akhirnya orangtuaku berinisiatif untuk membawaku ke UGD terdekat. Bapak yang memboncengku dengan sepeda motor milik paklik.

Oh ya, disaat kami bersilaturahim tadi, mengetahui aku tidak enak badan, para sepupu bergantian menanyakan keadaanku, meskipun tidak semuanya tapi hal itu membuatku senang sekaligus terharu :’) oke aku memang cengeng.

Setelah periksa di UGD, aku mendapatkan 3 jenis obat berbentuk tablet. Pada saat pertama kali aku meminum obat tersebut, malam itu juga, reaksi obatnya sangat cepat, suhu tubuhku kembali normal dan itu bertahan lumayan lama hingga aku akhirnya memutuskan untuk tidur.

[Jogja, 6 Juni 2019] Esoknya, kami– aku, adik, ibuk, dan bapak, bersiap-siap untuk meninggalkan Jogja menuju Nganjuk, kota kelahiran ibuku. Biasanya kami akan berangkat saat matahari belum terlihat agar jalanan sepi namun karena aku tidak enak badan akhirnya kami berangkat setelah sarapan pagi. Jalanan terpantau ramai lancar. Kami sampai di Nganjuk pada siang hari dengan suhu tubuhku yang kembali naik, akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat. Ternyata reaksi obat yang kudapat dari UGD tidak lagi semanjur pada awalnya.

[Nganjuk, 7 Juni 2019] Hari ini Bapak, Ibuk, dan Adik bersilaturahim ke rumah saudara tanpa diriku karena tidak lagi memungkinkan untuk aku turut ikut. Demam ini selalu datang ketika hari beranjak siang. Setelah selesai bersilaturahim, orangtuaku khawatir padaku karena demamku tak kunjung turun, akhirnya sekitar pukul 4 sore bila aku tidak salah, mereka bersama omku membawaku ke Laboraturium untuk mengetahui lebih detail tentang penyakit apa yang sebenarnya aku alami. Sayang, laboraturium yang berada dekat dengan rumah nenekku sudah tutup saat aku ke sana, dan mereka menyarankan untuk membawaku ke laboraturium yang ada di kota. Jarak rumah nenekku ke kota tidaklah dekat, kami harus melewati jalanan yang tidak rata dan berdebu. Demamku semakin menjadi. Butuh waktu kira-kira lebih dari setengah jam untuk sampai ke laboraturium yang berada di kota. Sesampainya disana, aku langsung disuruh untuk berbaring di ranjang pasien untuk kemudian dicek tensi darahku, suhu tubuhku, dan terakhir mereka mengambil sampel darahku untuk diperiksa. Setelah kurang lebih setengah jam sampai satu jam, hasil lab keluar dan aku dinyatakan positif terkena Tifus, atau biasanya dikenal dengan Tipes. Pada malam itu juga, orangtuaku memutuskan untuk aku harus rawat inap. Maka sepulangnya dari lab, kami kembali pulang ke rumah nenek untuk mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan, setelah itu kami minus om, pergi ke puskesmas kecamatan, dekat dengan rumah nenek. Sesampainya disana, setelah dilakukan pemeriksaan seperti biasa dan menyerahkan hasil lab, maka perawat memasangkan infus ke tangan kiriku. Inilah pertama kalinya aku dipasangi selang infus. Setelah kamar yang akan aku tempati telah selesai disiapkan, aku dibawa kesana menggunakan kursi roda, dan lagi-lagi inilah pertama kalinya aku menggunakan kursi roda. Iya aku norak.

Hari-hari aku diopname merupakan hari-hari sulit bagiku dan juga keluargaku karena mereka harus bergantian untuk menjagaku serta merawatku di puskesmas. Lalu pada Senin pagi, 10 Juni 2019, aku pulang dari puskesmas. Senin itu juga aku kembali ke Probolinggo.

[12 Juni 2019] pada hari Rabu, kami sekeluarga pergi ke Jember. Ya, bapak dan ibuk memutuskan untuk mengantarku karena melihat kondisiku yang belum sepenuhnya pulih. Kami mampir ke rumah saudara terlebih dahulu setelah itu mengantarku menuju kost ku. Sorenya, bapak dan adik kembali ke Probolinggo tapi ibuk tidak, beliau memutuskan untuk menemaniku selama aku ujian.

Ibuk yang mengurusku di Jember, masak, mencuci, semuanya beliau yang menangani. Ibuk hanya menyuruhku untuk fokus pada ujianku, dan selama di Jember pun demamku masih kadang-kadang kambuh, terbangun tengah malam dan ke toilet karena sakit perut. Senin, 24 Juni 2019, seusai ujian terakhir, aku langsung berberes kamar untuk kembali ke Probolinggo. Aku tidak pulang bersama ibuk karena beliau pulang pada hari Jumat sebelumnya, kenapa begitu? Ceritanya panjang.

Aku pulang naik bus bersama teman sekelasku yang sama-sama akan ke Probolinggo. Aku tidak memilih bus patas untuk menghindari AC (jujur aku jadi sedikit trauma), tapi sesampainya di rumah aku tetap masuk angin. Setelah itu demamku kambuh lagi.

Selama aku di rumah, demamku terbit tenggelam bagai pelangi (maaf auto nyayi). Satu hari aku sehat wal afiat, hari berikutnya aku kembali lemah, tidak bisa ditebak. Salah makan, demam. Minum es kebablasan, demam (padahal segelas doang). Kena angin dikit aja nanti bisa greges terus demam lagi. oh ya selama aku sakit, dari awal sampai detik ini masih enak makan, tapi itu gak bertahan lama.

[Probolinggo, 6 Juli 2019] hari itu aku terbangun dengan tidak demam, maka aku mencoba untuk membantu untuk mencuci baju, menyiapkan makanan lalu sarapan. Saat siang hari tiba, demamku perlahan kambuh hingga malam. Setelah minum obat baru bisa reda. Namun esoknya aku kembali demam. Orangtua ku kembali cemas. Malamnya apapun yang masuk ke perutku akan aku muntahkan kembali. Akhirnya malam itu juga orangtuaku mengantarku ke salah satu rumah sakit di kota. Sesampainya disana, setelah diperiksa ternyata demamku mencapai 380C. tanganku kembali diberi selang infus. Aku kembali di opname.

Baru pada kamis malam, 11 Juli 2019 aku dapat kembali ke rumah. Aku opname lebih dari 3 hari, jadilah aku memikili bekas infus pada tangan kanan dan juga kiri. Aku pulang dengan membawa beberapa obat yang harus aku habiskan sampai hari kontrolku tiba.

Gara-gara kelelahan, penyakit batuk ibuku kambuh. Aku tidak dapat membantu apa-apa hanya doa, aku harap ibuk lekas sembuh dan sehat lagi (minta doanya juga ya teman-teman). Bapak juga, adik juga semoga sehat selalu, aaminn.

Aku gak bisa mendeskripsikan seberapa besar perjuangan orangtuaku, aku gak tau bagaimana cara berterimakasih atas segala yang telah mereka berikan. Sangat amat banyak. Yang mereka inginkan hanyalah agar anak gadisnya lekas kembali menjadi sehat seperti sedia kala.

Sampai detik ini pun, aku masih berjuang.

Terakhir, aku minta doa untuk kesembuhanku dan tolong jaga kesehatan kalian :)

                                                                                        Probolinggo, 15 Juli 2019 

0 comments:

Post a Comment

 

Keep Moving! Template by Ipietoon Cute Blog Design