Monday, August 4, 2014

[Cerpen] Down To Earth by @noeranggadila

Down To Earth
By: @noeranggadila




I never thought that it'd be easy
Cause we're both so distant now
And the walls are closing in on us and we're wondering how


Bau air hujan masih terasa. Namun nyatanya, hujan telah berhenti menetes, menyisakan bekasnya dimana-mana. Untuk beberapa saat, aku hanya berdiri terdiam dengan menatap ke arah pintu bercat putih yang tertutup, ya aku sedang berdiri di depan pintu rumah tentunya. Bimbang.
Namun akhirnya, aku memencet bel beberapa kali dan menunggu. Kembali, kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku hoodie abu-abu yang kukenakan. Sang pemilik rumah membukakan pintu dan mempersilahkanku masuk. Seketika terjadi keheningan di antara kami, tak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan.

“Maaf telah membuatmu menunggu tadi. Oh ya, kau mau minum apa?” kata sang tuan rumah menawarkan.
Suara yang telah lama aku rindukan, suara yang sama seperti lima tahun lalu.“Tidak usah repot-repot, aku hanya sebentar saja,” jawabku dengan seulas senyum yang seakan dipaksakan, mungkin dia melihatku begitu.
“Kenapa harus buru-buru? Apakah kau tak merindukan Ayah?”
Rindu. Apakah ayah berpura-pura tidak tau? Aku, ibu, kami semua sangat merindukan Ayah, apakah Ayah tak menyadarinya?! “Kenapa Ayah jarang ke rumah?” kataku akhirnya mengabaikan pertanyaan dari Ayah.
“Akhir-akhir ini Ayah sibuk, banyak pekerjaan yang harus Ayah kerjakan, kau tau kan?”
Sibuk. Ya aku hafal sekali gelagatnya yang satu itu. Sejujurnya, tanpa Ayah beritahu pun, aku sudah tahu. Dan mungkin usahaku hari ini akan berujung sia-sia, aku yakin itu.

No one has a solid answer
But just walking in the dark
And you can see the look on my face, it just tears me apart


“Oh ya, bagaimana kabar ibumu?” katanya, mencoba menbuka topik pembicaraan baru.
“Ibu baik-baik saja. Sebenarnya aku ke sini ingin memberimu ini.” Aku menyerahkan sebuah undangan kepadanya.
“Meskipun aku tau Ayah tak bisa hadir karena terlalu sibuk, setidaknya Ayah tau sekolahku akan mengadakan pertunjukan musik, dan semua orang tua murid diundang.”

Dia terdiam sambil memandangi undangan itu. Mungkin dia diam menunggu beberapa saat untuk mengatakan ketidak sanggupannya menghadiri acara sekolahku atau mungkin, diamnya itu sudah berarti dia tidak akan bisa hadir. Dan kalau begitu, firasatku benar bahwa dia tak akan sempat untuk menghadirinya. Sebenarnya aku tahu ia tak akan pernah sempat menghadiri undangan yang aku berikan, sebanyak apapun itu. Tapi anehnya, aku terus saja memberinya undangan yang aku dapatkan dari sekolah.

“Sebenarnya…”
“Ayah tak usah repot-repot menjelaskan, aku tahu ayah tak bisa hadir. Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu.” Aku pun beranjak dari sofa untuk pulang.
“Jason, tunggu!”

Aku berhenti melangkah. Apakah akhirnya dia ingin mengatakan bahwa dia akan hadir? Apakah dia akhirnya sadar aku sangat mengharapkannya hadir dalam acara itu? Apakah Ayah tahu isi hatiku?

“Biar Ayah antar kau pulang,” ujarnya sambil mencoba menyentuh pundakku, tapi aku menepisnya.
Aku pun tersenyum pahit. “Tidak usah, aku bukan anak kecil lagi.” Setelah itu aku langsung pergi tanpa menoleh ke arahnya.
***
Mommy, you were always somewhere
And Daddy, I live out of town
So tell me how could I ever be, normal somehow?


Seperti biasa, makan malam hari ini hanya ada aku dan ibu, karena hanya ada kami berdua dirumah ini, pembantu dan tukang kebun rumah ini sedang ijin. Dan setiap kali aku mengingatnya, mengingat kesepian ini, nafsu makanku jadi hilang. Ibu menyadari perubahan itu saat aku mulai memainkan garpu dan sendok di atas piring.

“Jason, apa yang sedang kau pikirkan, nak?” Itulah suara yang selama 17 tahun setia menemaniku. Dia yang paling mengerti aku, kapan aku bahagia atau sedang terpuruk, kapan aku jujur atau pun bohong. Jadi percuma saja aku  mengelak.
“Ayahmu mungkin sedang benar-benar sibuk, kau kan tau itu.” Ada nada kerinduan di kalimatnya. Aku tahu, ibu juga menginginkan hal yang sama sepertiku, ingin ayah kembali, meskipun ia berusaha menyembunyikan hal itu.
“Apakah Ibu akan melakukan hal yang sama?” Sejak lima tahun lalu, tepatnya setelah ayah meninggalkan rumah ini, ibuku mulai menyibukkan dirinya dengan usaha toko bunga yang sekarang bukan lagi toko kecil tua yang catnya telah terkelupas disana-sini. Melainkan toko bunga yang buka sejak pukul tujuh pagi hingga tujuh malam dengan lima pramuniaganya. Itulah alasan terkadang ia telat pulang.
“Aku takkan membiarkan anak kesayanganku menyanyi sendiri tanpa dilihat ibunya.” Sebuah jawaban sederhana yang dapat merekahkan senyumku selebar-lebarnya. ‘Cause, she is my hero!
“Sepertinya aku ingin makan lagi,” candaku.

You tell me this is for the best
So tell me why am I in tears?
So far away and now I just need you here


Setelah makan malam selesai, aku langsung masuk ke dalam kamar dan meraih gitar yang selalu setia menemaniku bernyanyi,  itulah benda kesayanganku. Ayahkulah yang pertama kali mengajarkan bermain gitar saat usiaku baru 10 tahun, aku sering berlatih dan akhirnya aku bisa. Gitar ini pula yang mengingatkanku pada hari itu, ketika aku baru pulang dari membeli gitar ini karena gitar ayah hilang setelah dipinjam temannya. Aku pulang dengan bangga karena telah berhasil membawa pulang gitar dengan uang hasil jerih payahku sendiri.

Rencananya aku ingin cepat-cepat menunjukkan gitar baruku pada ayah, namun setelah aku membuka gerbang, tiba-tiba aku mendengar kegaduhan dari dalam rumah dan kulihat ayah keluar dari rumah dengan membawa kunci mobil disusul ibu mengekor di belakangnya. Mereka sama-sama mencoba mempertahankan opini masing-masing, ibu dengan tuduhan pada ayah yang kurang menyediakan waktu untuk keluarga, sedangkan ayah tak mau kalah dengan alasan sibuk dengan pekerjaan dan bla bla bla.

Lalu mereka berdua menyadari kehadiranku disana. “Apa yang sedang terjadi?” mereka berdua sama-sama diam dengan pertanyaanku. Lalu ayah segera menghampiriku.
“Ini yang terbaik, Ayah harus pergi. Jaga ibumu baik-baik.”

Seperti petir di siang bolong, ia membungkam mulutku dengan pernyataannya. Seketika senyum yang kubawa pulang lenyap seketika, hilang ditelan bumi. Ingin aku menghentikan langkahnya, namun ia telah menghidupkan mesin mobil dan keluar dari garasi. Aku tak peduli lagi dengan gitar baruku yang begitu saja aku jatuhkan, aku hanya berlari untuk menghentikan laju mobil Pajero Sport hitam itu.

Aku tak lagi memedulikan ibuku yang berteriak agar aku tak mengejar mobil ayah, pikiranku sedang kacau hingga aku berhenti mengejar karena mobil itu telah melaju jauh di depan. Aku terdiam cukup lama di tempat itu, sampai akhirnya aku berjalan kembali kerumah.

So we fight,
Through the hurt,
And we cry and cry and cry and cry,
And we live,
And we learn,
And we try


Awalnya aku percaya penjelasan ibu bahwa ayah hanya pergi untuk beberapa hari saja, tapi akhirnya aku sadar, aku tau alasan dia pergi dan tak lagi pulang kerumah. Hari demi hari aku mencoba untuk tegar, mungkin aku berhasil menenangkan diriku, tapi tidak dengan jiwaku yang mungkin tak akan merasa tenang sebelum beliau kembali berkumpul bersama kami. Mungkin ibu juga sama? Dia tampak ceria setiap hari, mungkin itu usahanya untuk tidak membuat sedih. Tapi aku tau, Bu. Aku tau kau pun tak mengharapkan keadaan ini, aku tau kau sebenarnya terluka, mungkin lebih terluka dari diriku. Intinya, kita sama-sama memerangi perasaan masing-masing. But, show must go on! Kita sama-sama mencoba melukis gambar baru dengan kemampuan untuk belajar dari masa lalu.

***

Apa ini permintaan yang terlalu berlebihan? Apa aku terlalu berharap? Menunggu dan menunggu. Acaranya memang telah mulai sejak 15 menit lalu, dan sebentar lagi adalah giliranku tampil, tapi dia belum juga menampakkan gelagatnya. Harusnya aku tidak melakukan ini, harusnya aku tak usah memedulikannya datang atau tidak, karena pasti akan seperti acara-acaranya sebelumnya, dia tak akan datang.

“Jason,” kata seorang gadis bergaun hijau lumut menghampiriku.
“Ada apa?” aku membenahkan kerah kemejaku yang sebetulnya sudah rapi.
“Sebentar lagi kau tampil, mengapa kau masih disini?”
“Oh ya, aku hanya sedikit grogi,” kataku sekenanya. Ah! Sebenarnya setiap kali aku berbicara dengannya itu yang membuatku grogi. Lexi, gadis yang diam-diam aku sukai, mungkin dia yang selalu dapat melupakan sejenak masalah hatiku ini. Saat dia tersenyum, untuk beberapa saat masalah yang aku alami hilang seketika.
“Ngomong-ngomong, kau terlihat tampan malam ini. But, I gotta go, good luck!”
“Thanks.” Apa aku tak salah dengar? Apakah masalahku terlalu menggangguku hingga berdampak pada pendengaranku? Tidak, aku yakin aku baik-baik saja. Apakah kalimat itu hanya sekedar kalimat tanpa makna apapun? Apa dia juga sebenarnya… Entahlah.

Aku segera fokus kembali, melupakan masalah, melupakan sejenak kejadian tadi. Aku siap untuk menunjukkan apa yang aku punya.

“Ladies and gentlemen, please welcome, Jason McCan,” panggil sang pembawa acara tanda waktuku untuk tampil telah tiba.

   Segera aku memasuki panggung, kursi penonton telah penuh dengan penghuninya, dan aku melihat ibu disana, tersenyum kearahku. Akupun balas tersenyum padanya. Lalu segera ku ambil gitar kesayanganku yang telah disiapkan dan duduk di kursi yang berada ditengah-tengah panggung.

“Thank you so much to every single one of you for coming to this show, we hope you all enjoy this. This song dedicate to someone out there, I hope he would see me,” kataku sebelum memulai bernyanyi. Entah kenapa, kata-kata itu meluncur begitu saja.

I felt so far away,
From where we used to be,
And now we're standing,
And where do we go,
when there's is no road
to get to your heart?
Lets start over again!

So it's up to you,
And it's up to me,
And we meet in the middle, on our way back down to earth,
Down to earth, (down to earth)
Down to earth,
On our way back down to earth,


            Tak terasa ada bulir-bulir hangat yang mendesak keluar dari pelupuk mataku seiring dengan berakhirnya petikan gitarku, tapi aku segera menghapusnya. Kuharap mereka tak menyadarinya. Para penonton bertepuk riuh. Aku membungkukkan badan tanda penampilanku telah usai. Aku tak berniat untuk menonton penampilan-penampilan teman-temanku yang lain, aku ingin sendiri dulu.

            Tak peduli sedingin apa malam ini, aku masih betah berdiam diri ditemani gitar kesayanganku. Jari-jemariku mulai memetik senar dengan nada-nada rancu. Mungkin mulut bisa berbohong, tapi hatiku tak bisa.

            Tiba-tiba seseorang mengagetkanku.

“Ternyata kau disini,” ujar Lexi berdiri sejajar disampingku.
Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu, tapi nyatanya aku hanya menjawabnya dengan seulas senyum, aku harap dia tak tau yang sebenarnya. Kulirik jam tanganku, tapi acaranya belum berakhir.
“Penampilanmu tadi keren, seperti biasa.”
Thanks!” Setiap kali dia memujiku serasa aku tak pernah kenal rasa sedih. Aku ingin membalas memuji balik, tapi aku bukan seorang pujangga, aku bukan seorang pemuda dengan seribu kata-kata manis yang dapat membuat setiap gadis yang mendengarnya klepek-klepek. Tidak, aku tak seperti itu, aku hanya mencoba menjadi apa adanya.

Suasana menjadi hening seketika, masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing. Seharusnya aku yang harus memulai pembicaraan basa-basi untuk cepat-cepat mengusir hening, tapi seperti yang kubilang tadi. Dia pun tak protes karena aku tak menanyakan sesuatu padanya, satu hal yang aku suka darinya.

“Boleh aku bertanya sesuatu.” Akhirnya dia bertanya lagi.
“Apa?” aku menoleh ke arahnya yang ternyata dia juga menatapku.
“Akhir-akhir ini kau sering menyendiri, ada apa?”

Aku mengalihkan pandanganku menerawang ke depan. Andai angin bisa bicara.

Lalu, cepat-cepat dia berkata, “Kalau kau keberatan aku mengetahuinya, tak masalah kok.”
“Ini tentang Ayahku.” Aku menoleh padanya lagi, lalu tersenyum.

Hening kembali. Sepertinya dia mengerti makna tersirat dalam jawabanku tadi, aku sedang tak ingin, benar-benar tak ingin bercerita sekarang sekalipun pada orang yang aku, aku suka. Sebenarnya aku tak pernah bercerita tentang masalahku ini pada siapa pun selain Ibu tentunya.

“Aku lihat mereka di dalam tadi.”
“Mereka?”
“Ibumu dan Ayahmu tentunya.”

Apa pikiranku mengganggu pendengaranku? Apa aku bermimpi? Apa dia benar-benar mengatakannya tadi? Tapi sungguh, selama aku tampil, aku hanya melihat Ibu, tidak dengan Ayah.

“Dia tak bisa datang, seperti biasa.” Sungguh, aku masih tak percaya yang satu ini, meski Lexi yang mengatakannya.
“Aku malah sempat berbincang dengannya tadi, Jason McCan.” Dia menekankan kata-katanya saat menyebutkan namaku. Aku memalingkan tubuhnya menghadapku, sejujurnya aku tak sadar telah melakukannya.
“Kau masih tak percaya, jam berapa sekarang? Dan jangan tanya kenapa,” suruhnya.
“Pukul sembilan,” sahutku tak mengerti maksudnya.
“Lihat mereka disana.” Aku menoleh ke arah yang ia maksud, diantara para tamu yang keluar karena acara telah usai. Dan tiba-tiba Lexi mencubit lenganku. Aku mengerang kesakitan.
“Berarti kau sudah bangun.”

Mereka yang Lexi maksud menghampiriku.

“Ayah…” Hanya kata itu yang berhasil keluar dari mulutku.
“Tante, Om, Lexi permisi dulu ya, udah ditunggu soalnya.”
“Kenapa buru-buru,” sahut Ibuku.
“Saya pamit dulu.” Dia meninggalkan kita bertiga.
“Kukira…” Lagi-lagi aku tak dapat menyelesaikan kalimatku.
“Ayahmu datang demi melihat penampilanmu, Jason,” jelas Ibuku. Aku menoleh ke arah Ayah. Dia mengangguk. Sejujurnya aku ingin berteriak, tapi disini masih ramai, jadi kuurungkan niatku itu. Mungkin aku egois, tapi apakah waktu bisa berhenti sekarang juga?

Tiba-tiba hujan turun.

“Sebelum hujan lebat, ayo kita pulang, pulang ke rumah tercinta,” ujar Ayah kemudian. 

I never thought that it'd be easy,
Cause we're both so distant now,
And the walls are closing in on us and we're wondering how?



Tamat.
Keterangan:
Lagu Inspirasi : Down to Earth.
Durasi              : 4:05 menit.
Album             : My World.
Pencipta          : Justin Bieber, Midi Mafia, Mason Levy, Carlos Battey, Steven Battey.
Penyanyi         : Justin Bieber.
Tanggal rilis     : 17 November 2009 oleh Island Record.
Video Inspirasi: Justin Bieber - Down To Earth (Music Video) By Jardc87



 

Keep Moving! Template by Ipietoon Cute Blog Design