Saturday, May 10, 2014

Mejeng di majalah sekolah, Dian Wara 5 [Jika Aku Mereka]


Jika Aku Mereka
@noerfaradila
            Dengan malas, kupaksa membuka mata, dan beranjak dari mimpi indahku. Kulirik jam digital yang bertengger di meja belajar, 06.30. Seketika, mataku langsung membulat sempurna menatap jam digital hitam itu.
“Apa?! Sial, aku telat!”
Dengan langkah seribu, aku langsung mengambil baju mandi dan langsung masuk kamar mandi tanpa menghiraukan omelan bundaku karena aku bangun kesiangan lagi. Entah, untuk keberapa kalinya aku kesiangan hanya gara-gara tidur kemalaman. Padahal aku selalu membuat alarm, tapi tetap saja aku telat bangun pagi.
aku berjalan menuju meja makan dengan kedua tangan sibuk memasang dasi, tas ransel yang tersangkut di lengan kananku dengan relesletingnya yang belum aku tutup sempurna.
“Harus sampai kapan sih bangun telat? Kamu gak malu sama diri kamu sendiri? Kamu itu sudah besar, masa harus minta dibangunin?” kata Bunda mengomel padaku seperti biasa.
Dan jawaban yang selalu aku  lontarkan setiap pagi pula adalah, “iya, maaf, besok gak akan telat lagi deh.” Tapi kenyataannya aku selalu telat.
“Selalu bilang janji, mana janjinya? Paling besok-besok diulangi lagi,” kata bundaku sambil memberikan segelas susu coklat kesukaanku.
Saat kutatap makanan yang ada di meja makan, rasa laparku langsung hilang. Sebenarnya bunda sudah menyiapkan banyak menu makanan untuk sarapan, tapi dari semua masakan yang ia masak pagi ini tak ada yang aku suka. Akhirnya aku hanya meminum segelas susu coklat yang masih hangat dan meletakkan gelasnya di meja makan. Aku pun langsung menuju ke garasi untuk mengambil sepeda.
Ketika menyadari aku tak sarapan, Bunda menghampiriku dan berkata, “kok, sarapannya gak dimakan?”
“Udah telat,” jawabku bohong. Aku hanya tak ingin menyakiti perasaan Bunda kalau aku bilang aku gak suka masakannya.
“Ya udah, kamu beli sarapan disekolah saja,” kata bundaku dengan nada sedikit kecewa, aku tahu itu. Namun ia tak menunjukkannya secara langsung.
Setelah berpamitan, kukayuh pedal sepeda dengan kecepatan maksimal. Tak peduli dengan orang-orang di jalan yang melihatku heran. Seorang gadis remaja, berpakaian seragam sekolah sekaligus wajah siap tempur.
Dengan wajah penuh peluh, akhirnya aku sampai juga di sekolah. Meskipun perlu perjuangan, menerobos lampu merah, lewat gang sempit dengan segala unggas yang berkeliaran. Hampir saja aku menabrak seekor kucing yang sedang tidur di tengah jalan dan terpaksa bangun lalu lari karena kaget dengan suara bel sepedaku.
“Pak, jangan digembok dulu!!” kataku dengan sedikit berteriak kepada Pak Ujang, penjaga sekolah yang bertugas menutup gerbang sekolah.
“Untung saja belum masuk, neng,” ujar Pak Ujang dengan senyuman ikhlas yang menyejukkan hati.
***
  Bel tanda pulang sekolah telah berdering beberapa menit yang lalu dan aku masih terjebak di sekolah karena hujan yang datang tiba-tiba dan tak mau memberikan kesempatan bagiku untuk pulang dengan tidak basah kuyup. Sialnya diriku hari ini, gara-gara kesiangan, aku lupa membawa jas hujan padahal tadi malam sudah aku siapkan di atas meja belajar. Satu-persatu temanku telah pulang dan alhasil tinggal aku sendiri menyesali diri dan berharap hujan akan segera reda.
Karena aku tak tahan untuk pulang kerumah, tetapi hujan juga belum mau reda, akhirnya aku nekat pulang biarpun kehujanan. Lalu, ketika aku mau melangkahkan kaki beranjak dari gerbang sekolah, ada seseorang yang memanggilku. Kutengok kearah suara itu, ternyata Pak Ujang yang berlari-lari kecil sambil membawa payung ke arahku.
“Kok belum pulang, neng?”
“Sebenarnya, saya mau pulang,” ujarku.
“Bagaimana, kalau pulang dengan saya saja, meskipun saya hanya punya satu payung” ucap Pak Ujang menawarkan bantuan.
Akhirnya aku menerima bantuannya, daripada aku harus pulang sendirian, dan kehujanan. Rumah Pak Ujang satu arah dengan rumahku, tapi kalau dari sekolah, lebih dekat rumahnya dari pada rumahku. Karena melihat aku menggigil kedinginan, jadi kami berhenti sejenak di rumah Pak Ujang. Rumahnya kecil, bukan maksudku menyombongkan diri. Temboknya pun dari bambu reot, dan diterangi dengan beberapa lampu yang sudah mulai tua dimakan usia.
Sesampainya kami di rumah Pak Ujang, kami langsung disambut istri Pak Ujang dan kedua anaknya yang masih kecil. Bu Iem, istri pak ujang langsung memberikan handuk dan teh hangat untuk kami berdua.
“Berteduh saja sejenak dirumah kami, anggap saja rumah sendiri,” kata Bu Iem.
Aku jawab dengan senyuman. Kedua anaknya mendekat padaku.
“Wah, tas kakak bagus,” kata yang berbaju kuning.
“Iya,” yang berbaju biru menyahuti.
Bagus? Padahal aku sudah menganggap ini sudah jelek, meskipun baru beli satu bulan yang lalu.
“Ayo, waktunya ngaji anak-anak,” suruh Bu Iem.
Kedua anaknya yang masih kecil, mungkin masih sekolah TK. Mereka cepat-cepat memakai sarung masing-masing, sarungnya pun bekas. Terdengar lantunan ayat-ayat suci yang mengalir begitu saja, seperti layaknya orang dewasa, mereka membaca dengan fasih. Aku jadi malu pada diriku sendiri, mereka yang masih kecil sudah rajin baca al-Qur’an. Sedangkan aku yang udah SMP masih belum fasih baca al-Qur’an. Terlalu.
Tiba-tiba, Bu Iem menghampiriku dengan membawa sepiring ketela goreng hangat yang asapnya masih mengepul.
“Silahkan dicicipi, maaf adanya hanya itu.
“Iya bu, terimakasih,” kataku. Tapi aku tak merasa lapar. Kemudian, kedua anak yang tadi mengaji, langsung menghampiriku,
“Kakak, aku minta ketelanya, boleh?” tanya si baju biru.
“Oh, iya, ambil aja,” jawabku. Aku memberikan sepiring ketela goreng pada mereka yang langsung diambil dan dilahab. Kelihatannya mereka lapar. Kenapa mereka tak meminta yang lain seperti, nasi goreng atau apalah yang lebih enak dari sekedar ketela goreng. Tapi kalau dipikir, jangankan minta nasi goreng, buat makan sehari-hari aja susah, karena Pak Ujang hanya bekerja sebagai penjaga sekolah yang penghasilannya tak bisa dijanjikan dan istrinya tak bekerja. Mereka tak mengeluh dengan segala yang mereka punya, mereka selalu mensyukuri apa yang ada. Tak seperti aku! Orang tuaku berkecukupan, tapi apakah aku telah bersyukur? Aku tak mau sarapan hanya karena lauknya tak cocok. Harusnya aku sadar bahwa masih banyak orang yang berjuang hanya untuk sesuap nasi.
Sepertinya hujan telah reda, dan hari semakin sore, waktunya aku pulang ke rumah. Akhirnya aku berpamitan pada mereka semua dan tidak lupa berterimakasih telah menampungku selama hujan.
Sepanjang perjalanan pulang, kukayuh sepeda sambil berfikir tentang apa yang aku pikirkan di rumah Pak Ujang tadi. Mensyukuri hidup, itu pelajaran berharga yang aku dapat hari ini. Baiklah, aku bertekad untuk menjadi orang yang mensyukuri apa yang ada. Dan yang pertama-tama, besok aku akan bangun pagi-pagi, sungguh!
                                                                                                Noer Anggadila-XIA    

[6 Januari 2013, Senin, pertama kali mejeng di majalah Dian Wara 5]

0 comments:

Post a Comment

 

Keep Moving! Template by Ipietoon Cute Blog Design