Saturday, July 4, 2015

[Cerbung] The Condition EP. 1 By @noeranggadila

weheartit.com

The Condition

Suasana kala itu hanyalah sebatas pagi biasa di pertengahan bulan September, tentunya dalam balutan angin musim gugur yang terkadang bisa menusuk hingga ke sendi-sendi tulang.

Seorang gadis memasuki sebuah kafeteria di pinggiran jalan garuso-gil. Ia menenteng tas selempengan berwarna coklat tua berukuran sedang, setidaknya cukup untuk tempat dompet, kosmetik, dan beberapa barang yang sering dibawa oleh seorang wanita pada umumnya.


Setelah pesanan datang, ia segera menyantap menu sarapannya itu. Sepiring waffle yang dilumuri dengan sirup maple dan secangkir teh hijau tanpa gula. Sambil menikmati hidangannya, gadis itu menyapu sekeliling keadaan kafeteria. Meskipun di luar sedikit berawan, namun matahari tak mau kalah untuk bersinar cerah, secerah wajah-wajah yang ada di dalam cafeteria itu. Suasana pagi di sebuah kafeteria yang baru ia kunjungi beberapa kali itu terlihat tidak terlalu ramai, namun tak pernah sepi pengunjung. Mungkin karena konsep ruangan kafeteria yang tampak kuno namun elegan atau karena pelayanan yang memuaskan serta para pekerjanya yang ramah, intinya siapa pun yang datang ke sini akan dibuat senyaman mungkin hingga enggan untuk cepat-cepat beranjak. Termasuk gadis itu.

Saat sang gadis ingin melahap potongan terakhir wafflenya, terdengar sesuatu yang berdering dari dalam tas yang ia letakkan di atas meja, masih satu meja dengan sepiring waffle dan secangkir the hijaunya. Ia mengambil benda itu yang ternyata adalah handphonenya dan membuka panggilan yang masuk.

“Ya, halo?”
“Selamat pagi, sayang! Bagaimana kabarmu hari ini?” terdengar suara perempuan dari dalam telepon.
“Oemma[1], aku baik-baik saja. kau terlalu mencemaskanku, padahal aku baru pergi seminggu yang lalu.” Sang gadis melahap potongan waffle yang tertunda tadi.
“Apakah salah aku merindukanmu?”
“Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak mau kau terlalu mencemaskanku. Toh, ini kulakukan karena pekerjaan.”

Terdengar helaan napas di seberang telepon. “Entah mengapa, aku selalu merindukanmu.”

“Aku juga.” Seulas senyum simpul memenuhi wajah gadis itu.
“Semoga kau nyaman di sana, tapi jangan lupa untuk mengunjungi oemma.”
“Ya, oemma, pasti! Doakan saja agar anakmu selalu sehat dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik di sini.”
“Baiklah, jaga kesehatanmu, setelah bekerja segera pulang.”
“Aku bukan anak kecil lagi oemma.”
“Ya sudah, semangat untuk hari ini, dah.” Sang lawan bicara mengakhiri telepon dengan mengecup handphonenya dan gadis itu melakukan hal yang sama.

Setelah membayar pesanannya, gadis itu langsung melangkah ke luar kafeteria dan berjalan beberapa meter menuju halte bus yang akan mengantarkannya ke Asan Medical Center di wilayah Songpa-gu, kira-kira butuh waktu sekitar 1 jam 17 menit untuk mencapainya.

Seperti halnya kafeteria tadi, rumah sakit ini tidak pernah sepi pengunjung. Suasana kesibukan dimana-mana. Pada dasarnya, Asan Medical Center merupakan rumah sakit terbesar di Korea yang dibuka sejak 23 Juni 1989, tidak heran jika setiap harinya selalu ada kesibukan di rumah sakit ini. Kalau New York disebut kota yang tak pernah tidur, maka rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit yang tak pernah mengantuk barang sekali pun.

Sudah sejak seminggu yang lalu, gadis itu dipindah tugaskan ke Asan Medical Center yang semula ia menjadi dokter di wilayah Yeosu.

Saat hendak mengunjungi pasien seperti biasa, tiba-tiba banyak perawat dan dokter, ada juga beberapa pengunjung yang sedang berkumpul di depan salah satu kamar pasien, bukan termasuk pasien yang ia tangani.

Ada apa?

Karena penasaran, akhirnya ia ikut ke dalam kerumunan tersebut.

“Seung Jae, buka pintunya!” salah satu dokter menggedor pintu yang rupanya terkunci.

Setelah berhasil menyelinap ke dalam kerumunan, akhirnya gadis itu tahu apa penyebabnya melalui kaca yang terdapat pada pintu kamar pasien. Ternyata di dalam kamar tersebut ada pasien yang sedang duduk di pinggir jendela dan pintu kamar pasiennya dikunci.

Apa dia ingin bunuh diri?

Gadis itu pun ikut panik, sedangkan para dokter yang lain memohon-mohon untuk membuka pintunya, namun tidak ada respon dari sang pasien yang ada di dalam.

Salah satu dokter berkata, “Bisa gawat kalau dia tiba-tiba loncat dari jendela itu, cepat ambilkan kunci duplikatnya!” Seorang perawat segera melaksanakan perintah dari dokter tersebut.

Kejadian ini cukup menarik banyak perhatian. Semakin lama, semakin banyak yang berkerumun di tempat itu, jadi para dokter segera membubarkan kerumunan dan tersisa tiga orang dokter, termasuk gadis itu dan dua orang perawat yang tetap berkumpul di depan pintu kamar pasien yang terkunci itu.

“Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya gadis itu.
“Saat kami ingin melakukan pemeriksaan, tiba-tiba pintunya sudah terkunci dan sang pasien telah duduk di pinggir jendela tersebut.” Salah seorang perawat menjawab.

Setelah mendapat kunci duplikat, pintu yang terkunci itu segera dibuka dan mereka segera memasuki kamar pasien tersebut. Tiba-tiba…

“Tolong tinggalkan aku sendiri!” Ujar sang pasien dengan nada dingin.
“Tap—”
“Biarkan aku sendiri!”

Seketika semua dokter dan perawat terdiam dan bingung.

“Kami bisa meninggalkanmu sendiri asal kau tidak mengunci pintu lagi dan turun dari jendela itu,” ujar sang gadis.

Pasien itu terdiam sejenak dan akhirnya mengangguk pelan. Segera para perawat membantunya turun dari jendela dan memapahnya ke tempat tidur. Setelah itu, semua dokter dan perawat keluar dari tempat itu sesuai perjanjian. Namun ada dua perawat yang disuruh mengawasi pasien tersebut dari luar, takut-takut dia melakukan hal aneh lagi.

Setelah jam makan siang, beberapa dokter spesialis kanker berkumpul di ruang rapat dokter, kegiatan rutin untuk mengevaluasi perkembangan para pasien yang telah mereka tangani.

Ruangan yang cukup luas, ber-AC, dan nyaman. Meja dan kursi diletakkan dengan sedemikian rapi ditempatnya masing-masing, berjajar membentuk persegi panjang. Sebuah ruangan yang dominan dengan warna putih itu seakan tidak pernah terjamah oleh debu sebutir pun.

Setelah semua dokter menyampaikan hasil evaluasi masing-masing, saatnya menarik kesimpulan.

“Dari keseluruhan pasien, hanya ada satu pasien yang bermasalah kali ini,” jelas seorang dokter laki-laki yang kelihatan masih muda dengan tatanan rambut klimis dan terlihat  basah, seperti baru diolesi minyak rambut. Perawakannya yang tegas dan serius, namun terpancar kelembutan dalam sinar matanya.

Dia melanjutkan, “Karena tiba-tiba saja dia berbuat nekat saat akan diperiksa rutin oleh beberapa perawat tadi pagi. Dia mengunci pintu dan duduk di pinggir jendela, tindakan yang sangat berbahaya.”

“Tapi Dokter Jang, dari mana dia mendapat kunci itu?” seorang dokter perempuan bertanya. Gadis itu masih diam mengamati.
“Mungkin petugas bersih-bersih sedang lalai dengan tugasnya,” sahut dokter yang lain.

Dokter yang dipanggil Jang itu kembali mengambil alih jalannya rapat.

“Sudah, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menindak lanjuti masalah ini, kita harus fokus kepada pasien bukan kepada kunci pintu itu.”

Suasa menjadi riuh sejenak, para dokter berbisik satu sama lain, mencoba mengungkapkan opini masing-masing.

“Mungkin dia sedang mengalami stres,” sang gadis pun akhirnya angkat bicara.
Seketika semua perhatian tertuju padanya.
“Apalagi dia buka hanya menderita LLA[2] , tapi juga mengalami kebutaan, dan menurut informasi yang saya terima, tak ada kerabat selain orang tuanya saja yang pernah mengunjunginya, itu pun jarang dilakukan. Bisa jadi dia merasa tertekan dan akhirnya stres.”

Semua mengangguk-angguk setuju. Kembali para dokter saling berbisik.

“Kalau begitu, kita bisa memberinya dokter pribadi guna memperhatikan gerak-geriknya lebih dekat dan lebih sering.”

Lagi, para peserta rapat mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

“Lalu siapa yang akan jadi dokter pribadinya?”

Dokter Jang mulai menimbang-nimbang dan memperhatikan satu-persatu para dokter di sana.

“Aku rasa Dokter Jung Eun Ji lah orangnya.”

Seketika gadis itu menatap lurus ke arah Dokter Jang, sedangkan dokter lainnya menatap gadis itu.

Aku?




[1] Mama (Korea)
[2] Leukemia limfositik akut (LLA) merupakan tipe leukemia atau kanker darah paling sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65 tahun atau lebih

0 comments:

Post a Comment

 

Keep Moving! Template by Ipietoon Cute Blog Design